Lewati ke konten
MasjidAtlas أطلس المساجد

Foto: Masjidmohhatta · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons ↗

Masjid Jamik Taluak Bukittinggi

masjid di Indonesia

Petunjuk arah

Info utama

Dibangun
1860
🧭 Apa saja fasilitas masjid ini?

Jika pernah ke sana, tandai yang Anda lihat; info yang terkonfirmasi ditampilkan dan dipakai untuk filter.

Masuk untuk menandai

Ringkasan

Konten ini belum tersedia dalam bahasa Anda.

Teks ini disusun dengan bantuan AI dari informasi bersumber dan belum ditinjau editor. Mohon laporkan jika ada kesalahan.

Jami Mosque of Taluak is regarded as one of the oldest mosques in Indonesia. It stands in Taluak IV Suku Nagari, Banuhampu District, Agam Regency, West Sumatra. Because it lies close to the Bukittinggi boundary, it is also known as Jamik Taluak Mosque Bukittinggi. The building as a whole reflects Minangkabau architectural influence, while the minarets and facade show Arabic influence added later. A single-storey structure, it serves both for worship and as a place of religious education for the community. It is among the best-known visitor sites in Agam Regency and Bukittinggi. Its management rests with the Archaeological Heritage Conservation Agency (BP3), which oversees West Sumatra, Riau and the Riau Islands.

Sejarah

Konten ini belum tersedia dalam bahasa Anda.

Teks ini disusun dengan bantuan AI dari informasi bersumber dan belum ditinjau editor. Mohon laporkan jika ada kesalahan.

Construction of the mosque was initiated by Haji Abdul Majid in 1860. It was originally built with wooden roofs. Over the years earthquakes caused significant damage, most recently the 2007 Sumatra earthquake, which left the building severely damaged. Despite several improvements and repairs, its authenticity is reported to have been well maintained.

During the Dutch colonial period the mosque was among the most photographed in the region, and those photographs are now held by the Tropenmuseum in Amsterdam.

Dari Wikipedia

Masjid Jamik Taluak adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang terletak di Nagari Taluak IV Suku, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Letak masjid ini dekat dengan perbatasan Kota Bukittinggi, sehingga juga dikenal sebagai Masjid Jamik Taluak Bukittinggi.

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Haji Abdul Majid pada tahun 1860, yang pada mulanya hanya terbuat dari kayu beratapkan ijuk. Masjid ini sempat mengalami beberapa kerusakan cukup berarti akibat gempa, seperti pada tahun 2007 yang mengakibatkan masjid ini rusak parah. Meski telah beberapa kali dilakukan perbaikan, keaslian masjid ini masih tetap dipertahankan.

Arsitektur yang dimiliki masjid ini secara keseluruhan dipengaruhi oleh corak Minangkabau. Pengaruh Arab datang kemudian dengan dibangunnya minaret lalu disusul pembuatan fasad. Dengan arsitektur yang dimilikinya, masjid ini juga menjadi salah satu masjid yang paling banyak difoto selama masa Pemerintahan Hindia Belanda, yang kini dikoleksi oleh Tropenmuseum di Amsterdam, Belanda.

Saat ini selain digunakan untuk aktivitas ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat, bahkan telah menjadi salah satu daya tarik wisata terkenal baik di Kabupaten Agam maupun di Kota Bukittinggi.

Masjid Jamik Taluak Bukittinggi saat ini berada dalam pengelolaan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.

Sumber: Wikipedia, artikel “Masjid Jamik Taluak Bukittinggi”; dikutip tanpa perubahan di bawah lisensi CC BY-SA 4.0. Baca selengkapnya di Wikipedia ↗ · CC BY-SA 4.0

Sumber
Terakhir diperbarui: 29 Oktober 2026 20 dilihat

Tambah ke daftar

Tambah foto

Foto ditambahkan setelah ditinjau editor.

Sarankan koreksi

Masjid Jamik Taluak Bukittinggi